Allah Berkehendak Lain. Part 1
Kenyataan
pahit menghantamku di hari terakhir pergulatanku di Elementary School, tepat
pukul 20:05 H Nauval Sobandi menghembuskan nafas terakhirnya di atas kasur
berukuran 2 x 4 meter yang betah menemaninya selama kurang lebih tiga tahun
lamanya. Mantel coklat bersalurkan warna putih tulang vertical menjadi saksi
bisu berpulangnya bapak menemui sang pencipta, aku iri dengan mantel itu, ia bisa
hadir disaat bapak dipertemukan dengan sang penjemput. Mungkin jika aku ada
pada saat itu, aku akan berusaha menghadang Malaikat Ijroil agar tidak
mengakhiri hidup bapa.
Aku
belum sempat meminta maaf kepadanya, meminta maaf dari segala perlakuan bodoh
yang aku lakukan kepadanya akhir-akhir ini. Benar benar kebodohan yang
disempurnakan , aku sangat sangat menyesal, yaaa itulah yang aku rasakan ketika
orang-orang mulai berkerumun kerumahku, sekedar membuang-buang air mata mereka
yang berhasil membanjiri seluruh ruangan, juga melantunkan ayat suci Al-qur’an.
Kesibukan
lain dilakukan kakakku, jari-jarinya lincah tampak bergetar menekan huruf demi
huruf dan nomor-nomor pada handphone menghubungi sanak saudara yang tinggal
cukup jauh disana. Aku duduk tepat disamping kanan bapak, memegang erat tangan
dinginnya sesekali ku tolehkan bola mataku ke arah perutnya, berharap adanya gerakan
kembang kempis darinya. Kulihat wajah pucatnya mengharapkan sebuah senyuman
kecil darinya yang biasa ia lakukan setiap aku beranjak ke sekolah, tapi…..
huhh ! ga mungkin… ! aku yakin bapak pasti tertidur mungkin kelelahan setelah
seharian ia berusaha keras melangkahkan kakinya untuk melihat dunia luar, yaa
setelah sekian lama ia berbaring akhirnya ia bisa terbebas dari kasur yang
membosankan itu. Bapak mulai membaik, tapi
dugaanku salah
…
Sekitar lima menit lamanya aku terus memegang erat tangan
bapak mataku terus berusaha untuk tidak menoleh objek lain selain perut bapak.
Ooohhh sekali lagi aku yakin bapak pasti tertidur. Aku tidak ingin menyemburkan
molekul-molekul kesedihan dari mataku, selama lima menit itu aku berhasil
menahannya, walaupun sangat terasa sekali gumpalan gergaji berada di esofagusku
yang sesekali harus aku eksekusi kedalam ventrikulusku.Tapi aku bukanlah dewa,
air mataku brontak memaksa keluar , prajurit-prajuritku tidak bisa menahan
keganasan mereka yang akhirnya aku pun larut dalam kesedihan, zat-zat cair
dalam mataku terus menerus keluar tanpa sungkan butuh tempat yang sangat besar
untuk menampung mereka.
Aku
tidak bisa menjadikan “cita-citaku sebagai ruh, kekalahanku sebagai belenggu
hawa nafsu dan menjadikan mati sebagai pakaianku” seperti Imam Al-Ghazali,
berpulangnya bapak membuatku sangat terpukul, sulit sekali bagiku untuk bisa
melepaskannya, tidak segampang melepaskan pakaian penjasorkes pasca lari
estafet dua ratus meter.
Kesedihanku
semakin membelenggu, aku tidak bisa lagi menahan desakan-desakan zat cair yang
terus menerus berusaha keras untuk menembus anatomis-anatomis pada mataku
ketika seorang ustadz melipatkan kedua lengan bapak di atas dadanya sembari
melafalkan kalimat istirja. “ Inalilahi wa’ina ilaihi raaji’un”. Sontak aku
langsung memeluk ibu yang pada saat itu berada disampingku, ia segera
meluncurkan belaian kasih sayangnya, tangan lembutnya mondar mandir diatas
kepalaku berusaha menenangkanku. Ia juga berusaha tegar, namun jutaan liter
aliran air yang keluar dari matanya membuktikan betapa sakitnya ia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar