Allah Berkehendak Lain. Part 2

                          Allah Berkehendak Lain. Part 2


                                                                   ....
          Lama sekali aku melampiaskan kesedihanku dipelukan ibu, tak disadari orang-orang yang berta’ziah semakin membludak.
            Ibu menyingkirkan tangan kanannya dari kepalaku, tandanya aku harus bermigrasi ke tepi. Aku duduk disudut nol derajat rumahku, bentangan kayu jati muda dengan skat-skat membentuk mini door yang tepat disampingku sangat pas sekali untuk dijadikan alas lengan kananku., ku lipatkan kedua kakiku membentuk segi tiga sama kaki yang tidak begitu sempurna.
            Dari sini aku bisa melihat semua orang yang memenuhi rumahku, Allah Maha besar segala puji baginya ia menciptakan berbagai macam suku dimuka bumi ini, puluhan variasi gen kini berkumpul di rumahku. Nampak hadir teman-teman sejawatku, pemilik warung depan, guru SD, murid-murid bapak, alumni Ponpes Al-ikhlas,  para tokoh agama, sanak saudara dan—euuhh nampaknya aku belum pernah melihat orang yang mengenakan sorban hijau itu, begitupun sekelompok pemuda di samping  aquarium itu toh aku tidak peduli siapa mereka.
             Dari semua orang yang hadir aku focus pada teman-temanku yang ada di pintu sana, dengan penuh sesak mereka berusaha menjorokan kepalanya ke dalam rumah, walaupun sebagian badan mereka dengan berat hati  harus tetap berada di luar. Nampak jelas, mata mereka terbelalak melihat  bapakku, sesekali mereka berbisik-bisik satu sama lain dan kembali mengarahkan bola matanya  menatap bapak, lagi-lagi lensa mata mereka membesar dan menjulingkan alisnya keangkasa bak roket tipe 9087, entah itu pengungkapan perasaan kaget, iba, senang atau… yaaah apa lah itu, ekspresi mereka terlalu monoton sehingga aku tidak bisa mengidentifikasinya. Dan aku tahu kini mereka akan memutarkan bola matanya kearahku, untuk bisa mengetahui bagaimana bentuk wajahku ketika menangis, apakah bibirku akan bertempuran dengan telingaku, ataukah hidungku akan berotasi dan berevolusi yang mengakibatkan keluarnya cairan magma dari kedua lubang hidungku  dan mengabadikan momen langka itu dengan kamera dua mega pixcel mereka dan menempelkan hasil jepretan mereka di madding sekolah dan—oooww ! (0.o??” mereka sedang menatapku !!!. ok relaxs ilmi. Pyuhh untunglah mereka hadir disaat air mataku kehabisan stok, sehingga aku bisa menunjukan betapa manisnya aku ketika menampakan wajah tegar percis sekali seperti Harmione Granger.
            Setelah berhasil mengelak dari serangan teman-temanku kini aku dihadapkan dengan ibu-ibu yang ada di sekelilingku. Salah seorang dari mereka mengelus-elus kepalaku          “ yang solehah ya neng ilmi, Allah yang memiliki segalanya, ia yang menciptakan mahluk dimuka bumi ini dan ia berhak untuk mengambilnya kapanpun yang ia hendaki tentunya tanpa sepengetahuan kita. Ibu yakin bapakmu akan bahagia disana, bapakmu sangat soleh nak,  tidak usah kwahatir dan neng ilmi jangan terus menerus terpuruk dalam kesedihan apalagi meresa sendiri ya, banyak orang yang sayang sama neng ilmi, sekarang neng ilmi harus bisa membahagiakan ibu neng ilmi ya .”
            Rasanya seluruh darahku berhenti beredar, ingin sekali aku membalasnya namun tiba-tiba aku tidak bisa mengeluarkan satu patah katapun, sepertinya mulutku di sandra oleh jutaan atom perasaan dihatiku.  Mereka  berhasil membuat stok air mataku kembali naik, ya aku nangis lagi, entah mengapa semburan-semburan kata-kata bijak salah seorang ibu yang tak lain adalah tetanggaku itu   membuat aku sedih, aku tahu ia berusaha menenangkan dan menghiburku tapi hatiku seperti di carik-carik dengan  kata-kata itu.
            Dengan lembut aku tersenyum kepada mereka aku tidak yakin apakah segaris senyuman itu membuat aku terlihat tegar dimana  air mataku terus menerus mengalir dengan leluasanya. Satu-satunya cara untuk menyumbat air mataku ini adalah mencari tempat lain yang lebih strategis, tentunya jauh dari malaikat-malaikat seperti itu. Yahh ! toilet , mungkin hatiku bisa tentram disana.
            Butuh perjuangan untuk menuju toilet , beberapa kali aku harus membungkukan badanku Sembilan puluh derajat dan melambaikan tanganku kebawah untuk bisa melewati orang-orang yang duduk di ruang tv dan dapur, tak jarang aku mendapatkan tatapan-tatapan iba dari orang-orang yang ada disana yang kembali membuatku sedih.
            Ku hadapkan wajahku pada cermin bundar berdiameter 20 cm yang tergantung pada paku kecil  yang mulai berkarat. Kutatap bayanganku….ooohh betapa hancurnya wajahku hidungku merah, mungkin setelah berjuang keras menarik jutaan liter magma yang hampir saja keluar dari lubang hidungku tadi, bemper BMW Nampak hadir menghiasi bawah mataku. Kini air mataku mulai surut kembali namun perasaanku berubah menjadi geram tidak tahu kenapa sepertinya  aku sangat marah kepada bapak-bapak yang menjenguk bapak kemarin, aku berfikir merekalah yang membuat bapak pergi , dengan santainya mereka menghisap rokok-rokoknya di dekat bapak yang mulai terbujur kaku, apakah mereka tidak tahu bahwa orang yang dijenguknya itu mengidap paru-paru? Entah apa yang mereka pikirkan, dan aku benar-benar marah.
            Astagfirullahhaladzim.. sepertinya pikiranku mulai lemah, “perginya bapak itu atas kehendak Allah ilmi, bukan bapak-bapak kemarin !”.ku buat kata-kata itu untuk bisa menenangkan pikiranku.   kuputuskan untuk mengambil air wudhu, karna memang aku belum shalat Isya. Kubasuh kedua telapak tanganku dengan air lalu mulutku, hidung, wajahku, kedua lenganku, kening lebarku, telinga, dan kedua kakiku kulafalkan doa “Ashadu’allaailaaha’illawloh wa’ashadu’annamuhammadan abduhuuwarosuul Allahummaj’alni minatawabina waj’alni minal mutatohirin waj’alni min’ibadikassoolihin”  ku usapkan kedua telapak tangan pada wajahku.
            Cukup lama aku berada di toilet sehingga begitu aku keluar sebagian orang yang ada di dapur tadi sudah beranjak pulang, sehingga aku tidak khawatir mendapatkan se’onggok tatapan-tatapan menyedihkan dari mereka, yaaa walaupun orang-orang yang tersisa disana juga melakukan hal yang sama, untungnya aku dapat membalasnya dengan senyuman manisku yang cukup meyakinkan.
            Untuk menuju kamarku, aku harus melewati ruangan tengah dimana aku harus melihat bapak kembali.  Aku berusaha untuk tidak menolehkan kedua mataku pada bapak, aku tidak mau air mataku kembali merajalela, namun di tengah jalan tatapan mataku terhenti ketika melihat beberapa kakak-kakakku yang sudah Nampak hadir, kakak pertamaku  memelukku yang pastinya disertai dengan sambutan air matanya, sontak kami menjadi bahan perhatian orang-orang yang berta’jiah, suara tangisan kakaku  yang menggelegar menarik perhatian orang-orang untuk memfocuskan lensa mata mereka pada kami. Namun anehnya pada saat itu aku tidak mengeluarkan tangisan mautku, seperti kakakku, mungkin ini lah yang dinamakan tegar.
            Dikamar yang tidak begitu besar kugelarkan sajadah abu-abu bergambar ka’bah, kupakai mukena putih yang sudah mulai dipenuhi noda-noda hitam permanen di sekitar hijabnya. Kulafalkan niat shalat isya sembari melakukan takbiratulihraam, lalu membaca do’a iftitah yang dilanjutkan dengan alfatihah lalu surat lalu— pada gerakan-gerakan berikutnya perasaanku mulai buyar nampaknya aku tidak khusu, suara tangisan  diluarsana membuat rukun-rukun shalatku tidak begitu sempurna . Ketika ruku tiba-tiba air mataku keluar kembali, dan air mataku membuat shalatku menjadi benar-benar tidak begitu sempurna. Rasanya cepat sekali mencapai rukun ke enam belas, aku tidak tahu apakah ada rukun yang terlewat sehingga aku putuskan melakukan sujud sahwi sebelum membaca salam.
            Ba’da shalat aku bermuhasabah juga bermunajat kepada Allah aku berharap semoga bapak di tempatkan di surga, juga Allah memberikan kesabaran kepada semua orang yang ditinggalkan khususnya Ibu. Semoga dengan berpulangnya bapak menjadi cerminan bagi ku dan kakak-kakaku untuk bisa lebih baik lagi memanfaatkan usia yang Allah berikan kepada kami. Aku tahu hidupku tidak akan sesempurna teman-temanku disana, dimana aku tidak akan lagi mendapatkan kasih sayang seorang ayah, semangat seorang ayah. Aku juga harus mengurangi segala sesuatu yang aku inginkan, karena selama ini bapaklah yang menjadi tulang punggung keluarga, yaaa walupun banyak kakak-kakaku yang akan memperhatikan kehidupanku, namun tidak seperti itu, mereka tidak akan sepenuhnya memperhatikanku, mereka sudah mempunyai kehidupan sendiri, istri, suami, juga anak-anak mereka, mungkin aku hanyalah selingan saja. Yaaa walaupun begitu aku harus tetap bersyukur, masih mempunyai banyak  orang yang menyayangiku dan Ibu. Aku harap Aku bisa menjadi wanita yang solehah juga sukses yang bisa membahagiakan Ibuku.
            Sesungguhnya benar apa yang dikatakan Imam Al-ghazali “kita harus menjadikan cita-cita sebagai ruh, kekalahan sebagai belenggu hawa nafsu dan  mati sebagai pakaian”, begitupun apa yang di katakana seorang ibu tadi bahwa “Allah yang memiliki segalanya, ia yang menciptakan mahluk dimuka bumi ini dan ia berhak untuk mengambilnya kapanpun yang ia hendaki tentunya tanpa sepengetahuan kita”. Yap segala sesuatu yang akan terjadi di muka bumi ini sudah diatur oleh Allah Sang Maha Pencipta, kita bukanlah apa apa dibanding-Nya dimana kita harus mentaati segala aturan-Nya, bertawakal dan juga ikhtiar . kita juga harus ingat bahwa kita akan kembali kepada-Nya dimana semua harta benda yang kita miliki dengan bersusah payah tidak akan menyertai kita ketika menghadap Allah, semua orang yang kita cintai akan kita tinggalkan begitu saja.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar